Syairku Untuk Seuntai Cinta Kasih

Cinta ada diantara kasih Alloh
datang pada manusia sebagai anugerah
dan kekuatan cinta mampu mengalahkan
semuwa dari apa yang dihadapi
sehingga ikatannya menjadi suci..

                 Cinta bisa datang kapanpun, dimanapun
                 sampai kehidupan ini lupa segalanya
                 pada achirnya, kehendak akan hanyut
                 didalam nuwansa sepi atau sunyi.

       Wayang menghantar isyarat kasih
       diantara kebenaran yang kian menjauh
       entah kemana manusia simpan diri
       ~

Rembang, 2017

: Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Advertisements

Apa!

       Rasa menyambut aroma wangi
       dedaunan yang membelai lembut
       sehelai harapan hati seorang anak manusia
       yang berselimut mimpi

Terseok aku di tengah telaga
nafas yang nyata
angan langkah meninggalkan dunia
fatamorgana yang seringkali dilupa

                 Anggur surga
                 yang lembut terteguk
                 dengan satu cangkir
                 alam fikir

       Kopi surga
       berbau nikmat pada pahitnya

Perkara yang seringkali membuat manusia lupa
untuk apa ia dicipta
Apa!

Rembang, 13 Agustus 2017
: Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Teruntuk Naura

Ketika rindu itu datang dengan tiba tiba
       Tanpa diminta
       Tanpa bisa diraba
Hanya ada angan semu
       Bayang bayang senyum penuh pesona
Yang menjadi pemeluk rasa pada satu rindu
       Yaitu kamu

Engkau datang berlumurkan cinta
Engkau ada dalam mimpi: tersipu malu

Bak putri tidur yang tengah menanti hangat pelukan sang pangeran berkuda putih
       Engkau telah lama terdiam pada hati yang telah lama tertata

Laksana sore menyambut permata berhiaskan senja
Terdengar merdu: sungguh
Suaramu terdengar merdu
Kata cinta: menggenggam erat
       Jemari yang bertasbih
Sungguh: erat

Akankah aku membacakan sajak ini kepadamu
       Seperti engkau membacakan sajakmu kepadaku?
Aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk membacakannya
Aku tidak memiliki keberanian sepertimu: berani membacakan sajakmu untukku

Kekasih
       Ketahuilah
Aku merindukanmu
       Rindu:
Jauh sebelum engkau mengirimkan sajak cinta kepadaku
Sajak cintamu kepada yang Maha Pencipta
       Akan selalu: tersimpan serta terdengar olehku
Dan semua kata kata manis itu
       Akan menjadi perhiasan dalam dzikirku

Teruntuk Naura
Semoga Alloh selalu menghiasi dzikir kita dengan rasa rindu kepadaNya
Dan semoga kita selalu berada dijalan yang semoga jalanNya

Rembang, 10 Juli 2017
: Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Sajak Shiva: Bersenandung Dalam Sunyi

Hari silih berganti, waktu kian berlalu
Dan kau masih tetap disini, menunggu dia kembali
Tentunya! Kembali dipelukanmu
Seperti saat dulu

Tidak! Bukan menunggunya
Jawabmu berteriak seraya menutup mata
Berpikir! Diam! Sejenak
Dan melihat jam tangan yang bagus itu

Berhalusinasi
Mungkin itu yang tengah kau lakukan
Berbohong
Mungkin itu yang tengah kau lakukan

Dendammu kepadanya memperlihatkan kebijaksanaanmu dalam diam
Kau menaruh dendam begitu membara dalam hati
Menanti datangnya hari esok
Untuk dendam yang terbayar lunas, Tuntas!

Kau masih menunggu
Tapi sayang
Dia tak pernah kembali dalam pelukanmu
Dendammu pun juga tak terbayar lunas

Begitupun dengan rasa sakit yang menyetubuhi hati mungilmu
Tak kunjung terobati!
Luka itu
Lara itu!!
Luka lara dalam yang begitu menyakitkan

Terngiang ditelinga kirimu
Kau harus tetap bertahan dalam kesendirian
Bersenandung dalam sunyi dan berdoa dalam sujud
Semoga kau bisa merelakannya untuk pergi, Selamanya

Rembang, Juli 2017
Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Sajak: Cerita Pada Kisah Angan Kosong

Cerita dalam rahasia
Kisah pada angan kosong
Kosong yang isi
Isi yang berarti kosong

Rahasia pada cerita
Angan kosong dalam kisah
Menceritakan kosong yang isi
Juga isi yang berarti kosong

Di jalan yang semoga jalan-Nya
Seorang diri percaya
Indah rencana Tuhan
Untuk sebuah angan

Tuhanku,
Jangan sedikit-sedikit Engkau memberi
Uji kelayakan hidup hamba ini
Pada tempat dimana hamba mencari
Sejuta tanya yang penuh arti

Muhammadku,
Akukah ummatmu
Yaa muhammadku
Bolehkah aku merindumu
Yaa muhammadku

Syeikh Achmad Mutamakin,
Aku selalu menangis
Penuh harap hati ini tak menjadi pengemis
Kala sore tiba
Menyongsong indah warna senja

Kekasihku,
Berhujat sejuta benci
Engkau memberi senyum diri ini
Pada sebuah tanda
Menjalin cerita cinta berdua

Ayah Ibu,
Maafkan anakmu
Yang selalu menjadi derita
Pada sepenggal suara merdu
Tawa kala kita bersama

Rembang, 13 Mei 2017
Puisi Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Sajak Waktu

Senja mulai menunjukkan sederhana
Lewat cahaya yang tak kunjung redup
Meskipun waktu kian belalu
Tetap saja cahaya tak kunjung redup

Hari benganti….
Mawar bermekaran melati harum mewangi
Surya kian meninggi mengintai sepasang merpati
yang melupakan anugerah indah napas Rahmani

Angsa menunggu malam tiba
Pada satu waktu yang sama
Anak sapi datang menghampiri
Atas kehendak Ilahi Robby

Pada jalan terjalnya
Membaca wajah dalam dongeng
Merajut cerita rahasia alam semesta yang kosong
Menyusuri muara sungai yang dangkal

Kudus, 09/05/2017
Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Sajak Shiva: Untuk Sebuah Kenangan

Mengingat kembali sebuah kenangan
Yang tlah terkubur dalam
Pada satu rasa, enggan
Untuk kembali menyapa masa lalu

Bukan karena membencimu
Ataupun menaruh dendam kepadmu
Mungkin ini rasa sesaat
Sebelum luka ini benar-benar kering
Dan berganti menjadi senyum bahagia walau dalam sepi

Dulu, engkau pernah mengabaikan senyum kasih sayang ini
Hingga berganti rupa menjadi air mata luka
Apa kau ingat! Sajak air mata cinta yang begitu membuta
Kini hampir menjadi sajak senyum bahagia dalam sepi.
Dan kau kembali, membawa sebuah kenangan masa lalu
Untuk di raba dalam satu waktu

Kudus, 05 Mei 2017
Puisi Achmad Shiva’ul Haq Asjach