Mengenali Kekurangan Diri

Manusia merupakan makhluk Allah yang paling mulia. Ia diciptakan dengan keadaan yang terbaik di antara semua makhluk yang ada. Dalam kaitan ini, kita semua sering mendengar para ulama, muballigh, dan penceramah yang menjelaskan bahwa manusia memiliki kelebihan-kelebihan yang dapat dibanggakan dibanding dengan ciptaan Tuhan yang lain. Badannya tegak dan lurus secara vertikal, kulitnya halus dan lembut tiada bersisik, parasnya cantik dan tampan, bentuk jasmaninya sungguh serasi dan enak dipandang. Ia juga dilengkapi dengan akal yang dapat dipergunakan untuk menganalisis segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Dengan akal inilah manusia dapat mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas pribadinya. Selain itu, manusia diberi pula dengan potensi takwa yang selalu mendorongnya untuk berbuat baik dan  hati nurani yang berfungsi untuk membisikkan dan menerima kebenaran, serta menjadikannya sebagai pedoman dari kehidupannya.

Namun demikian, selain segala kelebihan itu, manusia juga memiliki kelemahan-kelemahan yang perlu diperhatikan. Sebab kelemahan-kelemahan itu sering kali menjadi sebab dari tergelincirnya manusia ke hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam pengalaman sehari-hari, fenomena demikian banyak sekali dapat ditemukan di sekitar kehidupan kita. Tidak jarang kita semua dibuat terkesima oleh peristiwa yang terjadi akibat dari perbuatan seseorang yang selama ini dikenal dengan sifat-sifat baiknya. Ada tetangga yang dikenal sebagai orang yang baik, lembut, dan penuh pengertian, ternyata tanpa diduga, ia telah melakukan pembunuhan terhadap saudara sekandungnya dengan perlakukan yang cukup mengenaskan. Ada pula kenalan yang sangat bijak dan tekun dalam menjalankan ajaran-ajaran agama, ternyata ia telah melakukan suatu perbuatan yang memalukan. Itu semua merupakan hal-hal yang sering kita temukan dalam kenyataan dan kehidupan ini.

Kondisi manusia yang seperti diuraikan di atas, yaitu yang memiliki keunggulan dan kelemahan adalah merupakan sesuatu yang memang terjadi. Hal itu bermula dari adanya kelengkapan yang ada pada dirinya, yaitu kecenderungan untuk kebaikan dan keburukan. Potensi kebaikan akan selalu mendorong manusia untuk selalu berbuat baik. Sebaliknya potensi keburukan yang ada pada dirinya akan selalu mendesaknya untuk berbuat jahat. Inilah keunikan manusia, yang menjadikannya berbeda dari malaikat dan iblis atau setan.

Malaikat merupakan ciptaan Tuhan yang hanya mengenal kebaikan. Ia adalah makhluk yang selalu taat, tidak pernah mengingkari perintah dan ajaran Tuhan, dan hanya bertasbih, mensucikan dan memuji-Nya. Oleh karena itu, malaikat dinilai sebagai satu-satunya makhluk yang hanya mengenal kebaikan, dan ia pula yang secara otoritas layak diberi predikat  sebagai “makhluk baik”. Sebagai kebalikannya adalah iblis atau setan. Makhluk ini hanya mengenal kejahatan. Semua yang dilakukannya adalah dengan tujuan untuk keburukan semata. Tak satupun dari perbuatannya yang berkecenderungan baik. Oleh karena itu, iblis dianggap sebagai makhluk yang secara otoritas dikatakan buruk.

Dengan adanya dua potensi, baik dan buruk, pada dirinya, manusia menjadi makhluk yang sangat unik, yaitu yang berpotensi untuk bersikap baik dan buruk. Berkaitan dengan hal ini, seorang ulama yang bernama Syeikh Sari as-Saqati pernah mengungkapkan sebagai berikut: “Manusia itu merupakan makhluk yang aneh. Jika ia baik, maka ia terlampau baik, sehingga malaikat sendiri iri kepadanya. Sebaliknya, jika ia jahat, maka ia terlampau jahat, sehingga setan sendiri malu untuk bersahabat dengannya. Karena itu, di antara makhluk Tuhan, manusia merupakan makhluk yang paling aneh. Sebab, tidak ada yang menandingi kebaikannya kalau ia baik, dan tidak ada pula yang melebihi kejahatannya, jika ia jahat. Alangkah mengherankan, manusia yang sedemikian lemah, masih juga mampu mengingkari Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Perkasa”.

Adanya dua potensi dalam diri manusia itu mengindikasikan dua hal, yaitu kekuatan dan sekaligus kelemahannya.Ada kalanya manusia dapat mengendalikan diri dan mengatasi semua keinginan buruk yang datang dari potensi yang ada padanya. Saat itu ia berada dalam kebaikan, dan ini merupakan keunggulan yang layak diapresiasi. Sebaliknya, sering pula ia di bawah pengaruh potensi buruk, sehingga yang muncul adalah sikap keburukannya. Pada waktu seperti ini, ia tentu berada dalam kondisi keburukan, dan ini merupakan kelemahan. Dua kutub yang sering berubah-ubah ini juga dapat dinilai sebagai sisi kelemahan yang ada pada manusia.

Selain kelemahan yang diakibatkan oleh tidak konsistennya sikap, manusia juga memiliki beberapa kelemahan yang sering muncul dan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Kelemahan-kelemahan itu antara lain adalah:

1. Sikap melampaui batas.

Sikap seperti ini muncul karena ia menilai dirinya telah berada dalam keadaan cukup. Ketika itu, ia merasa tidak lagi memerlukan apa-apa atau siapapun jua. Akibatnya, segala sesuatu yang ada pada dirinya dianggap telah mencukupi dan ia merasa berhak untuk berbuat semaunya. Sehubungan dengan sikap ini, Allah SWT. Telah memperingatkan dengan firman-Nya sebagai berikut:

(كَلاَّ إنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى. أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى. (العلق: 6-7

Artinya:“Ketahuilah, sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena melihat dirinya serba cukup”. (QS. Al-`Alaq;  6-7)

2. Sikap suka berkeluh kesah.

Sikap seperti ini akan muncul bila ia sedang menerima cobaan. Ketika datang suatu musibah kepadanya, maka reaksi pertama adalah kegelisahan dan keluhan yang diungkapkannya. Bahkan keluh kesah ini juga sering diungkapkan ketika ia berbicara dengan teman atau koleganya, walaupun pada saat itu ia dinilai dalam kondisi yang menyenangkan. Sebaliknya, bila ia menerima kenikmatan menjadi kikir dan tidak mau berbagi rahmat yang telah diterimanya dengan yang lebih memerlukan. Allah mengisyaratkan sifat ini dalam surat al-Ma`arij ayat 19, sebagai berikut:

(إنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا. إذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا. وَإذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا. (المعارج: 19-21

Artinya:”Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesulitan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia menjadi kikir”. (QS. Al-Ma`arij; 19-21).

3. Sikap dan kecenderungan untuk selalu ingin mengulang dalam kemaksiatan.

Sikap seperti ini muncul karena dominasi potensi buruk yang ada pada dirinya, dan ia cenderung untuk mengikuti, walaupun nalar dan nuraninya menghendaki yang lain. Sehubungan dengan sikap ini Allah SWT. Telah menginformasikan sebagai berikut:

(بَلْ يُرِيْدُ الإنْسَانُ لِيَفْجُرَ أمَامَهُ. (القيامة:5

Artinya:“Tetapi manusia cenderung untuk berbuat jahat terus menerus”. (QS. Al-Qiyamah; 5)

4. Sikap suka tergesa-gesa.

Sikap seperti ini muncul karena adanya keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara cepat. Keinginan yang demikian sering kali justru menyebabkannya untuk tidak mempertimbangkan persoalan yang dihadapi dengan sebaik mungkin. Akibatnya, ia justru akan terperosok pada sesuatu yang tidak diinginkan. Allah SWT. juga telah mengingatkan akan adanya sifat ketergesa-gesaan ini dengan firman-Nya sebagai berikut:

(وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُوْلاً. (الإسراء: 11

Artinya:“Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa”. (QS. Al-Isra’; 11)

5. Cepat berputus asa dan ingkar.

Kondisi seperti ini merupakan salah satu sifat negatif yang menonjol. Ketika nikmat dicabut darinya, segera saja ia bersikap putus asa dan merasa bahwa ia seolah-olah merupakan orang yang paling sengsara dan paling menderita di muka bumi. Sedikit saja ia terganggu, maka sumpah serapah dan cacian  akan keluar dari mulutnya. Pada saat itu, ia merasa bahwa dirinya merupakan orang termalang di dunia, sehingga hanya keluh kesah dan rasa tidak puas yang terungkap. Dalam al-Qur’an Allah telah berpesan kepada umat manusia agar mereka tidak cepat putus asa, dan selalu berjuang untuk mencapai apa yang dinginkan dengan cara yang benar. Pesan demikian disampaikan untuk mengingatkan bahwa yang cepaat berputus asa itu adalah orang kafir, sebagaimana firman-Nya pada surat Yusuf ayat 87 sebagaia berikut:

(وَلاَ تَيْأسُوا مِنْ رَوْحِ اللهِ. إنَّهُ لاَ يَيْأسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُوْنَ.(يوسف: 87

Artinya:”Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah itu hanyalah orang-orang yang kafir”. (QS. Yusuf; 87).

Sebaliknya, jika ia terlepas dari musibah, selamat dari gangguan, pekerjaannya menjadi lancar, dan lain sebagainya, tidak ada ungkapan terima kasih sebagai rasa syukurnya. Ia hanya menganggap bahwa semua itu merupakan hasil usahanya sendiri. Padahal, semua keberhasilan yang dicapai seseorang pada hakikatnya juga karena adanya nashrullah atau pertolongan Allah. Selain itu, banyak di antara manusia yang bersikap ingkar terhadap nikmat atau cobaan yang diberikan Allah.  Dengan sedikit musibah yang terjadi, ada sebagian di antara mereka yang langsung ingkar dan tidak lagi meyakini kasih sayang Allah. Ada pula di antara mereka yang tidak kuat menerima ujian kenikmatan yang diturunkan kepada mereka, sehingga mereka menjadi lalai karena nikmat yang dianugerahkan itu.

Itulah beberapa sifat manusia yang menunjukkan segi-segi kelemahannya. Sifat yang demikian memang merupakan kecenderungan yang ada pada setiap orang. Oleh karena itu, ada baiknya bila setiap individu dari kita semua mau mengenalinya dan mulai pula mengendalikannya. Dengan mengenali dan memahami segala sifat-sifat negatif itu, niscaya kita akan menyadari bahwa kita memang bukan makhluk yang super. Di samping keunggulan-keunggulan yang kita miliki, ternyata ada pula sisi-sisi kelemahan yang harus terus diperhatikan.

Untuk mengatasi berbagai sisi negatif itu, al-Qur’an dengan segala petunjuknya telah memberikan pedoman yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan kita. Dengan demikian, selayaknya bila kita semua tetap harus berpedoman dengan ajaran-ajarannya dalam menempuh hidup di dunia ini, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Tanpa petunjuk al-Qur’an, niscaya perbuatan dan tingkah laku manusia akan dapat terarah pada sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Ilahi. Bila ini yang terjadi, maka sisi-sisi gelap yang ada pada diri kita akan mendapat kesempatan luas untuk beraktualisasi. Akibatnya, justru kita akan menjadi makhluk yang hanya berkecenderungan pada yang negatif. Nauzubillah. Di kalangan para sufi  dikenal ungkapan:

تَخَلَّقُوا بِأخْلاَقِ اللهِ

Artinya: “Berakhlaklah seperti akhlak Allah”.

Ungkapan ini menginformasikan agar kita dapat menghiasi diri dengan akhlak Allah yang serba positif. Tujuan dari anjuran ini adalah agar kita selalu mengontrol dan mengendalikan sifat-sifat negatif yang memang sudah tercetak dalam diri sejak awal dan tidak mungkin dihilangkan. Yang dapat dilakukan adalah mengendalikan semua sifat buruk yang merupakan kelemahan manusia, dan menggantinya dengan sifat-sifat baik yang dimiliki Allah. Oleh karena itu, tahap pertama yang harus dilakukan adalah memahami dan menghayati sifat-sifat Allah yang terkandung dalam al-Asma’ al-Husna. Pada nama-nama yang indah inilah sifat-sifat Allah tergambar, dan kewajiban kita adalah untuk menghiasi diri dengan sifat-sifat itu.

Semoga…

: dari vaa~ untuk anak cucu dan jama’ah.

Advertisements