Syairku Untuk Seuntai Cinta Kasih

Cinta ada diantara kasih Alloh
datang pada manusia sebagai anugerah
dan kekuatan cinta mampu mengalahkan
semuwa dari apa yang dihadapi
sehingga ikatannya menjadi suci..

                 Cinta bisa datang kapanpun, dimanapun
                 sampai kehidupan ini lupa segalanya
                 pada achirnya, kehendak akan hanyut
                 didalam nuwansa sepi atau sunyi.

       Wayang menghantar isyarat kasih
       diantara kebenaran yang kian menjauh
       entah kemana manusia simpan diri
       ~

Rembang, 2017

: Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Apa!

       Rasa menyambut aroma wangi
       dedaunan yang membelai lembut
       sehelai harapan hati seorang anak manusia
       yang berselimut mimpi

Terseok aku di tengah telaga
nafas yang nyata
angan langkah meninggalkan dunia
fatamorgana yang seringkali dilupa

                 Anggur surga
                 yang lembut terteguk
                 dengan satu cangkir
                 alam fikir

       Kopi surga
       berbau nikmat pada pahitnya

Perkara yang seringkali membuat manusia lupa
untuk apa ia dicipta
Apa!

Rembang, 13 Agustus 2017
: Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Teruntuk Naura

Ketika rindu itu datang dengan tiba tiba
       Tanpa diminta
       Tanpa bisa diraba
Hanya ada angan semu
       Bayang bayang senyum penuh pesona
Yang menjadi pemeluk rasa pada satu rindu
       Yaitu kamu

Engkau datang berlumurkan cinta
Engkau ada dalam mimpi: tersipu malu

Bak putri tidur yang tengah menanti hangat pelukan sang pangeran berkuda putih
       Engkau telah lama terdiam pada hati yang telah lama tertata

Laksana sore menyambut permata berhiaskan senja
Terdengar merdu: sungguh
Suaramu terdengar merdu
Kata cinta: menggenggam erat
       Jemari yang bertasbih
Sungguh: erat

Akankah aku membacakan sajak ini kepadamu
       Seperti engkau membacakan sajakmu kepadaku?
Aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk membacakannya
Aku tidak memiliki keberanian sepertimu: berani membacakan sajakmu untukku

Kekasih
       Ketahuilah
Aku merindukanmu
       Rindu:
Jauh sebelum engkau mengirimkan sajak cinta kepadaku
Sajak cintamu kepada yang Maha Pencipta
       Akan selalu: tersimpan serta terdengar olehku
Dan semua kata kata manis itu
       Akan menjadi perhiasan dalam dzikirku

Teruntuk Naura
Semoga Alloh selalu menghiasi dzikir kita dengan rasa rindu kepadaNya
Dan semoga kita selalu berada dijalan yang semoga jalanNya

Rembang, 10 Juli 2017
: Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Sajak Shiva: Bersenandung Dalam Sunyi

Hari silih berganti, waktu kian berlalu
Dan kau masih tetap disini, menunggu dia kembali
Tentunya! Kembali dipelukanmu
Seperti saat dulu

Tidak! Bukan menunggunya
Jawabmu berteriak seraya menutup mata
Berpikir! Diam! Sejenak
Dan melihat jam tangan yang bagus itu

Berhalusinasi
Mungkin itu yang tengah kau lakukan
Berbohong
Mungkin itu yang tengah kau lakukan

Dendammu kepadanya memperlihatkan kebijaksanaanmu dalam diam
Kau menaruh dendam begitu membara dalam hati
Menanti datangnya hari esok
Untuk dendam yang terbayar lunas, Tuntas!

Kau masih menunggu
Tapi sayang
Dia tak pernah kembali dalam pelukanmu
Dendammu pun juga tak terbayar lunas

Begitupun dengan rasa sakit yang menyetubuhi hati mungilmu
Tak kunjung terobati!
Luka itu
Lara itu!!
Luka lara dalam yang begitu menyakitkan

Terngiang ditelinga kirimu
Kau harus tetap bertahan dalam kesendirian
Bersenandung dalam sunyi dan berdoa dalam sujud
Semoga kau bisa merelakannya untuk pergi, Selamanya

Rembang, Juli 2017
Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Mengenali Kekurangan Diri

Manusia merupakan makhluk Allah yang paling mulia. Ia diciptakan dengan keadaan yang terbaik di antara semua makhluk yang ada. Dalam kaitan ini, kita semua sering mendengar para ulama, muballigh, dan penceramah yang menjelaskan bahwa manusia memiliki kelebihan-kelebihan yang dapat dibanggakan dibanding dengan ciptaan Tuhan yang lain. Badannya tegak dan lurus secara vertikal, kulitnya halus dan lembut tiada bersisik, parasnya cantik dan tampan, bentuk jasmaninya sungguh serasi dan enak dipandang. Ia juga dilengkapi dengan akal yang dapat dipergunakan untuk menganalisis segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Dengan akal inilah manusia dapat mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas pribadinya. Selain itu, manusia diberi pula dengan potensi takwa yang selalu mendorongnya untuk berbuat baik dan  hati nurani yang berfungsi untuk membisikkan dan menerima kebenaran, serta menjadikannya sebagai pedoman dari kehidupannya.

Namun demikian, selain segala kelebihan itu, manusia juga memiliki kelemahan-kelemahan yang perlu diperhatikan. Sebab kelemahan-kelemahan itu sering kali menjadi sebab dari tergelincirnya manusia ke hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam pengalaman sehari-hari, fenomena demikian banyak sekali dapat ditemukan di sekitar kehidupan kita. Tidak jarang kita semua dibuat terkesima oleh peristiwa yang terjadi akibat dari perbuatan seseorang yang selama ini dikenal dengan sifat-sifat baiknya. Ada tetangga yang dikenal sebagai orang yang baik, lembut, dan penuh pengertian, ternyata tanpa diduga, ia telah melakukan pembunuhan terhadap saudara sekandungnya dengan perlakukan yang cukup mengenaskan. Ada pula kenalan yang sangat bijak dan tekun dalam menjalankan ajaran-ajaran agama, ternyata ia telah melakukan suatu perbuatan yang memalukan. Itu semua merupakan hal-hal yang sering kita temukan dalam kenyataan dan kehidupan ini.

Kondisi manusia yang seperti diuraikan di atas, yaitu yang memiliki keunggulan dan kelemahan adalah merupakan sesuatu yang memang terjadi. Hal itu bermula dari adanya kelengkapan yang ada pada dirinya, yaitu kecenderungan untuk kebaikan dan keburukan. Potensi kebaikan akan selalu mendorong manusia untuk selalu berbuat baik. Sebaliknya potensi keburukan yang ada pada dirinya akan selalu mendesaknya untuk berbuat jahat. Inilah keunikan manusia, yang menjadikannya berbeda dari malaikat dan iblis atau setan.

Malaikat merupakan ciptaan Tuhan yang hanya mengenal kebaikan. Ia adalah makhluk yang selalu taat, tidak pernah mengingkari perintah dan ajaran Tuhan, dan hanya bertasbih, mensucikan dan memuji-Nya. Oleh karena itu, malaikat dinilai sebagai satu-satunya makhluk yang hanya mengenal kebaikan, dan ia pula yang secara otoritas layak diberi predikat  sebagai “makhluk baik”. Sebagai kebalikannya adalah iblis atau setan. Makhluk ini hanya mengenal kejahatan. Semua yang dilakukannya adalah dengan tujuan untuk keburukan semata. Tak satupun dari perbuatannya yang berkecenderungan baik. Oleh karena itu, iblis dianggap sebagai makhluk yang secara otoritas dikatakan buruk.

Dengan adanya dua potensi, baik dan buruk, pada dirinya, manusia menjadi makhluk yang sangat unik, yaitu yang berpotensi untuk bersikap baik dan buruk. Berkaitan dengan hal ini, seorang ulama yang bernama Syeikh Sari as-Saqati pernah mengungkapkan sebagai berikut: “Manusia itu merupakan makhluk yang aneh. Jika ia baik, maka ia terlampau baik, sehingga malaikat sendiri iri kepadanya. Sebaliknya, jika ia jahat, maka ia terlampau jahat, sehingga setan sendiri malu untuk bersahabat dengannya. Karena itu, di antara makhluk Tuhan, manusia merupakan makhluk yang paling aneh. Sebab, tidak ada yang menandingi kebaikannya kalau ia baik, dan tidak ada pula yang melebihi kejahatannya, jika ia jahat. Alangkah mengherankan, manusia yang sedemikian lemah, masih juga mampu mengingkari Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Perkasa”.

Adanya dua potensi dalam diri manusia itu mengindikasikan dua hal, yaitu kekuatan dan sekaligus kelemahannya.Ada kalanya manusia dapat mengendalikan diri dan mengatasi semua keinginan buruk yang datang dari potensi yang ada padanya. Saat itu ia berada dalam kebaikan, dan ini merupakan keunggulan yang layak diapresiasi. Sebaliknya, sering pula ia di bawah pengaruh potensi buruk, sehingga yang muncul adalah sikap keburukannya. Pada waktu seperti ini, ia tentu berada dalam kondisi keburukan, dan ini merupakan kelemahan. Dua kutub yang sering berubah-ubah ini juga dapat dinilai sebagai sisi kelemahan yang ada pada manusia.

Selain kelemahan yang diakibatkan oleh tidak konsistennya sikap, manusia juga memiliki beberapa kelemahan yang sering muncul dan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Kelemahan-kelemahan itu antara lain adalah:

1. Sikap melampaui batas.

Sikap seperti ini muncul karena ia menilai dirinya telah berada dalam keadaan cukup. Ketika itu, ia merasa tidak lagi memerlukan apa-apa atau siapapun jua. Akibatnya, segala sesuatu yang ada pada dirinya dianggap telah mencukupi dan ia merasa berhak untuk berbuat semaunya. Sehubungan dengan sikap ini, Allah SWT. Telah memperingatkan dengan firman-Nya sebagai berikut:

(كَلاَّ إنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى. أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى. (العلق: 6-7

Artinya:“Ketahuilah, sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena melihat dirinya serba cukup”. (QS. Al-`Alaq;  6-7)

2. Sikap suka berkeluh kesah.

Sikap seperti ini akan muncul bila ia sedang menerima cobaan. Ketika datang suatu musibah kepadanya, maka reaksi pertama adalah kegelisahan dan keluhan yang diungkapkannya. Bahkan keluh kesah ini juga sering diungkapkan ketika ia berbicara dengan teman atau koleganya, walaupun pada saat itu ia dinilai dalam kondisi yang menyenangkan. Sebaliknya, bila ia menerima kenikmatan menjadi kikir dan tidak mau berbagi rahmat yang telah diterimanya dengan yang lebih memerlukan. Allah mengisyaratkan sifat ini dalam surat al-Ma`arij ayat 19, sebagai berikut:

(إنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا. إذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا. وَإذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا. (المعارج: 19-21

Artinya:”Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesulitan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia menjadi kikir”. (QS. Al-Ma`arij; 19-21).

3. Sikap dan kecenderungan untuk selalu ingin mengulang dalam kemaksiatan.

Sikap seperti ini muncul karena dominasi potensi buruk yang ada pada dirinya, dan ia cenderung untuk mengikuti, walaupun nalar dan nuraninya menghendaki yang lain. Sehubungan dengan sikap ini Allah SWT. Telah menginformasikan sebagai berikut:

(بَلْ يُرِيْدُ الإنْسَانُ لِيَفْجُرَ أمَامَهُ. (القيامة:5

Artinya:“Tetapi manusia cenderung untuk berbuat jahat terus menerus”. (QS. Al-Qiyamah; 5)

4. Sikap suka tergesa-gesa.

Sikap seperti ini muncul karena adanya keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara cepat. Keinginan yang demikian sering kali justru menyebabkannya untuk tidak mempertimbangkan persoalan yang dihadapi dengan sebaik mungkin. Akibatnya, ia justru akan terperosok pada sesuatu yang tidak diinginkan. Allah SWT. juga telah mengingatkan akan adanya sifat ketergesa-gesaan ini dengan firman-Nya sebagai berikut:

(وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُوْلاً. (الإسراء: 11

Artinya:“Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa”. (QS. Al-Isra’; 11)

5. Cepat berputus asa dan ingkar.

Kondisi seperti ini merupakan salah satu sifat negatif yang menonjol. Ketika nikmat dicabut darinya, segera saja ia bersikap putus asa dan merasa bahwa ia seolah-olah merupakan orang yang paling sengsara dan paling menderita di muka bumi. Sedikit saja ia terganggu, maka sumpah serapah dan cacian  akan keluar dari mulutnya. Pada saat itu, ia merasa bahwa dirinya merupakan orang termalang di dunia, sehingga hanya keluh kesah dan rasa tidak puas yang terungkap. Dalam al-Qur’an Allah telah berpesan kepada umat manusia agar mereka tidak cepat putus asa, dan selalu berjuang untuk mencapai apa yang dinginkan dengan cara yang benar. Pesan demikian disampaikan untuk mengingatkan bahwa yang cepaat berputus asa itu adalah orang kafir, sebagaimana firman-Nya pada surat Yusuf ayat 87 sebagaia berikut:

(وَلاَ تَيْأسُوا مِنْ رَوْحِ اللهِ. إنَّهُ لاَ يَيْأسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُوْنَ.(يوسف: 87

Artinya:”Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah itu hanyalah orang-orang yang kafir”. (QS. Yusuf; 87).

Sebaliknya, jika ia terlepas dari musibah, selamat dari gangguan, pekerjaannya menjadi lancar, dan lain sebagainya, tidak ada ungkapan terima kasih sebagai rasa syukurnya. Ia hanya menganggap bahwa semua itu merupakan hasil usahanya sendiri. Padahal, semua keberhasilan yang dicapai seseorang pada hakikatnya juga karena adanya nashrullah atau pertolongan Allah. Selain itu, banyak di antara manusia yang bersikap ingkar terhadap nikmat atau cobaan yang diberikan Allah.  Dengan sedikit musibah yang terjadi, ada sebagian di antara mereka yang langsung ingkar dan tidak lagi meyakini kasih sayang Allah. Ada pula di antara mereka yang tidak kuat menerima ujian kenikmatan yang diturunkan kepada mereka, sehingga mereka menjadi lalai karena nikmat yang dianugerahkan itu.

Itulah beberapa sifat manusia yang menunjukkan segi-segi kelemahannya. Sifat yang demikian memang merupakan kecenderungan yang ada pada setiap orang. Oleh karena itu, ada baiknya bila setiap individu dari kita semua mau mengenalinya dan mulai pula mengendalikannya. Dengan mengenali dan memahami segala sifat-sifat negatif itu, niscaya kita akan menyadari bahwa kita memang bukan makhluk yang super. Di samping keunggulan-keunggulan yang kita miliki, ternyata ada pula sisi-sisi kelemahan yang harus terus diperhatikan.

Untuk mengatasi berbagai sisi negatif itu, al-Qur’an dengan segala petunjuknya telah memberikan pedoman yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan kita. Dengan demikian, selayaknya bila kita semua tetap harus berpedoman dengan ajaran-ajarannya dalam menempuh hidup di dunia ini, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Tanpa petunjuk al-Qur’an, niscaya perbuatan dan tingkah laku manusia akan dapat terarah pada sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Ilahi. Bila ini yang terjadi, maka sisi-sisi gelap yang ada pada diri kita akan mendapat kesempatan luas untuk beraktualisasi. Akibatnya, justru kita akan menjadi makhluk yang hanya berkecenderungan pada yang negatif. Nauzubillah. Di kalangan para sufi  dikenal ungkapan:

تَخَلَّقُوا بِأخْلاَقِ اللهِ

Artinya: “Berakhlaklah seperti akhlak Allah”.

Ungkapan ini menginformasikan agar kita dapat menghiasi diri dengan akhlak Allah yang serba positif. Tujuan dari anjuran ini adalah agar kita selalu mengontrol dan mengendalikan sifat-sifat negatif yang memang sudah tercetak dalam diri sejak awal dan tidak mungkin dihilangkan. Yang dapat dilakukan adalah mengendalikan semua sifat buruk yang merupakan kelemahan manusia, dan menggantinya dengan sifat-sifat baik yang dimiliki Allah. Oleh karena itu, tahap pertama yang harus dilakukan adalah memahami dan menghayati sifat-sifat Allah yang terkandung dalam al-Asma’ al-Husna. Pada nama-nama yang indah inilah sifat-sifat Allah tergambar, dan kewajiban kita adalah untuk menghiasi diri dengan sifat-sifat itu.

Semoga…

: dari vaa~ untuk anak cucu dan jama’ah.

Sajak: Cerita Pada Kisah Angan Kosong

Cerita dalam rahasia
Kisah pada angan kosong
Kosong yang isi
Isi yang berarti kosong

Rahasia pada cerita
Angan kosong dalam kisah
Menceritakan kosong yang isi
Juga isi yang berarti kosong

Di jalan yang semoga jalan-Nya
Seorang diri percaya
Indah rencana Tuhan
Untuk sebuah angan

Tuhanku,
Jangan sedikit-sedikit Engkau memberi
Uji kelayakan hidup hamba ini
Pada tempat dimana hamba mencari
Sejuta tanya yang penuh arti

Muhammadku,
Akukah ummatmu
Yaa muhammadku
Bolehkah aku merindumu
Yaa muhammadku

Syeikh Achmad Mutamakin,
Aku selalu menangis
Penuh harap hati ini tak menjadi pengemis
Kala sore tiba
Menyongsong indah warna senja

Kekasihku,
Berhujat sejuta benci
Engkau memberi senyum diri ini
Pada sebuah tanda
Menjalin cerita cinta berdua

Ayah Ibu,
Maafkan anakmu
Yang selalu menjadi derita
Pada sepenggal suara merdu
Tawa kala kita bersama

Rembang, 13 Mei 2017
Puisi Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Sajak Waktu

Senja mulai menunjukkan sederhana
Lewat cahaya yang tak kunjung redup
Meskipun waktu kian belalu
Tetap saja cahaya tak kunjung redup

Hari benganti….
Mawar bermekaran melati harum mewangi
Surya kian meninggi mengintai sepasang merpati
yang melupakan anugerah indah napas Rahmani

Angsa menunggu malam tiba
Pada satu waktu yang sama
Anak sapi datang menghampiri
Atas kehendak Ilahi Robby

Pada jalan terjalnya
Membaca wajah dalam dongeng
Merajut cerita rahasia alam semesta yang kosong
Menyusuri muara sungai yang dangkal

Kudus, 09/05/2017
Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Sajak Shiva: Untuk Sebuah Kenangan

Mengingat kembali sebuah kenangan
Yang tlah terkubur dalam
Pada satu rasa, enggan
Untuk kembali menyapa masa lalu

Bukan karena membencimu
Ataupun menaruh dendam kepadmu
Mungkin ini rasa sesaat
Sebelum luka ini benar-benar kering
Dan berganti menjadi senyum bahagia walau dalam sepi

Dulu, engkau pernah mengabaikan senyum kasih sayang ini
Hingga berganti rupa menjadi air mata luka
Apa kau ingat! Sajak air mata cinta yang begitu membuta
Kini hampir menjadi sajak senyum bahagia dalam sepi.
Dan kau kembali, membawa sebuah kenangan masa lalu
Untuk di raba dalam satu waktu

Kudus, 05 Mei 2017
Puisi Achmad Shiva’ul Haq Asjach

Ingat.. Pemilwa Bukan Seremonial Politik. Bung!!

Semakin menarik melihat dinamika politik yang seperti magnet saling tarik menarik dikalangan mahasiswa STAIN Kudus. Belakangan ini parpol kampus dan mahasiswa seolah tersentral pada apa yang dinamakan politik. Itu menjadikan beberapa di antara kita kian matang secara empirik dalam memahami realitas sosial. Ketika kita dihadapkan pada periodisasi politik kampus, berharap bahwa ini bukan seremonial yang berulang tanpa arah dan tujuan.

Mahasiswa bukan hanya sebagai objek dalam proses politik yang ditandai sebagai floating mass. Mereka justru bagian subjek, yang diyakini sudah cukup mapan pula untuk beraktualisasi didalamnya. Mereka pun juga bukan segmen pasar yang pantas untuk dieksploitasi demi kepentingan politik, karena marwah ilmiah dan rasional selalu melekat padanya. Tentu sikap yang diambil bukan lagi warna-warni yang abu. Keabu-abuan justru akan menstimulasi sejumlah kelompok kepada alternatif-alternatif yang kurang tepat.

Di momentum Pemilwa (Pemilihan Umum Mahasiswa) seperti ini, partai politik kampus sebagai infrastruktur (middle class) menjadi penghubung mahasiswa menuju suprastruktur (kelembagaan kampus). Ini adalah miniatur sistem kenegaraan yang dielaborasi pada sistem tata-kelola Senat Mahasiswa STAIN Kudus. Pada pesta demokrasi ini pula, euforia politik begitu terasa. Banyak wacana politik yang dilontarkan dan ditawarkan partai politik melalui kandidat atau delegasi partai yang bakal menduduki lembaga legislatif dan ataupun ekskutif. Namun sayangnya situasi seperti ini terjadi sangat singkat. Kegaduhan, riuh-rendah, serta duel wacana politik, terkadang hanya selesai di momentum pemilihan saja. Tidak ada kontrol dan edukasi politik yang sustainable dan simultan pasca-pemilwa, begitu pun pra-pemilwa. Seperti ada proses politik yang loncat dari pada hierarkinya.

Partai politik yang hanya bergerak jelang Pemilwa, malah akan melahirkan mahasiswa yang menyuarakan suaranya namun lepas dari busurnya, hanya mengkritik tapi tak ikut serta dalam berbenah. Mereka dengan lantang bersuara tapi tidak tahu salurannya. Bagaimana bisa membangunkan mahasiswa yang tertidur untuk berbenah di rumah sendiri? Terkadang celotehan hanya berujung pada sikap apolitis yang tak berkhasiat. Ini bukan cuap-cuap burung gereja disaat fajar, karena khalayak umum pun bisa melakukan proses yang demikian. Lalu dimana letak “maha” atas “siswanya”?

Momentum demokrasi ini adalah pertarungan wacana atau gagasan progresif yang ideal antara aku, kamu, kalian dan mereka yang berstatus mahasiswa. Berharap gagasan atau wacana ini tak berhenti dalam alam ide, karena kita bukan bangsa utopian. Semangat konstruksi harus tetap tertanam sejak di alam ide dan diformulasikan dalam tindak-tanduk yang konkret. Kita bukan buih di lautan, karena kedaulatan ada di pundak kita bersama, kewajiban dan hak selalu berpadu.

Karenanya, jika ingin membangun dan berbenah dirumah sendiri, harus melibatkan semua komponen yang berstatus mahasiswa. Dan tanpa dipolitisasi oleh oknum dosen maupun birokrat kampus. Jika semua komponen terlibat, wacana atau gagasan murni dan fair akan menghasilkan input dan ouput yang jelas bagi mahasiswa dalam mengarungi dunia akademis, sesuai cita-cita Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berwujud pendidikan, penelitian-pengembangan dan pengabdian masyarakat.

Peran partai politik harus di-revitalisasi sebagaimana fungsi dan perannya dalam edukasi dan kontrol politik pra-pemilwa dan pasca-pemilwa, sehingga tidak ada lagi kesan pembodahan dalam prosesnya.  Partai harus sadar akan hak dan kewajiban yang harus ditunaikan. Wacana atau gagasan harus direalisasikan secara serius, agar tidak terkesan hangat dan menguap begitu saja. Tentunya hal ini dapat dilakukan oleh pemangku kebijakan atau elite-elite lembaga yang telah diamanahkan sebagai representasi mahasiswa.

Boleh lah, partai politik saat ini sudah cukup mewadahi mahasiswa untuk beraktualisasi. Tapi, peranan tidak boleh sebatas rekrutmen saja. Parpol kita mesti mewujudkan harapan mahasiswa dalam fungsi komunikasi politik, pendidikan politik, agregasi politik, dan kontrol politik. Jika semua fungsi dijalankan, maka bukan tidak mungkin mahasiswa STAIN Kudus akan menjadi sekumpulan orang terdidik yang mau bergerak tidak hanya bersuara, mereka yang berbeda dengan khalayak umum.

Orang terdidik dan baik, adalah orang yang bisa mempertanggungjawabkan apa yang disuarakannya. Mereka akan merasa anti terhadap kedzaliman. Dari sini tepatlah kekhawatiran Anies Baswedan tentang kaum terdidik. “Orang-orang baik tumbang bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena banyaknya orang baik yang diam dan mendiamkan.” Ayo, nyaringkan suaramu dengan lantang dan tandaskan gerakanmu. Lambat tertinggal, diam tertindas, berhenti mati!!

Rembang, 02/12/2016.
Thnks for Reading.
Semoga Menginspirasi.. 🙂